Rabu, 26 November 2014

BELAJAR DARINYA ...

Dia begitu sempurna. Ya, setidaknya dia paling baik di mataku dan di mata orang lain, di sini. Kata-katanya cukup untuk merobohkan hati. Suaranya bagai petir yang begitu tegas dan berani. Namun, di balik itu, ada kelembutan yang tersirat.

Ah, entahlah ... Aku tetap akan menyebut dia sempurna. Sampai-sampai tidak sampai aku padanya. Sudah kucoba bertahan dengan silaunya. Namun, bagiku yang memiliki keterbatasan dalam melihat, aku tak sanggup lama-lama dekat dengannya. Tak apa, dia akan tetap sempurna meski di sini ada aku yang serba tak lengkap.

Apakah membenci itu? Apakah aku membencinya? Padahal dia begitu baik, sangat baik. Ya Allah, aku ingin mengembalikan dia padamu saja. Atau tempatkan dia ke dunianya. Aku ingin menyerah, setiap kali melihat dia.

Adakah orang lain yang juga merasa demikian?

^_^ Mari perbaiki diri

Aku ingin merasakan lelah menyerah hingga yang tersisa adalah satu, yaitu bangkit.
Sudah cukuplah melihat dia, dia, dan dia. Sudah cukup waktu untuk melihat dia. Yang tersisa saat ini adalah hikmah dari melihat dia. Tentang kelemahan dan kekurangan diriku yang masih begitu banyak. Dengan melihat dia, aku tahu bahwa aku masih harus banyak belajar. Itu intinya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. 2:216)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar